Yang ini bak kisah pager bagus atau dimas diajeng.
Sebagian besar sangat bersyukur mempunyai mantu Tante Dita. Seperti Bunda Maria dalam ranah bahwa ia seorang ibu. Namun tentu belum dibahas sampai Jakarta. Namun kami boleh percaya akan sosok Bunda Maria ini karena ia lahir dan tumbuh di Sendangsono. Ya, semua Ibu boleh menerima title Bunda Maria.
Hanya kali ini dengan berat hati kami mengganti warna kebayanya menjadi hijau. Karena dispenser
Dari angle sebaliknya, Bunda Maria yang polos dan taat ini bersyukur mendapatkan Om kandung saya. Seperti penyelamat saja, padahal Om saya GKJ. Hehe.. Moral of the story, dua-duanya sama-sama orang Jawa. Dan karena Bapaknya merokok. Semua anak perokok dikirimi penyelamat. Entah agamanya apa. Camkan baik-baik. Karena perokok tidak tahu kapan ajal datang. Dan saya menjamin istri perokok sejak awal menikah harus punya mindset atau pola pikir single mother. Bahwa suaminya sudah mati. Namun antidote harus dibawa serta bahwa hidup harus disyukuri.
Putri Sendangsono yang sangat lugu ini sangat jauh berbeda dengan wanita kota. Ia sangat patuh dan tidak banyak berharap. Lebih sering tersenyum dalam menghadapi kesulitan. Karena lahir di Sendangsono, ya serupa patung Bunda Maria bisa nafas, bisa bicara, bisa senyum, bisa masak, bisa nyuguhi telo godog, seperti kemana-mana bawa gua, bawa sendang, bawa lilin, ya semuanya, dan teman-temannya terlihat sama. Hanya mereka sama-sama engga tahu apa yang saya pikirkan.
Coba cari saja di Google foto Bunda Maria warna hijau.
Mereka menikah secara Katolik di Gereja Sendang atas.
Comments
Post a Comment