But then Jesus follows his prayer with a parable that reinforces this notion of childlike dependence and pleading. This parable is easily mis-understood as an allegory about God, in which God is cast as the reluctant neighbor who really doesn’t want to get out of bed and wake up his whole family, but eventually gives in because the guy in need is so bold — and besides, he’s probably already woken up the children already. The reluctant giver: No, this isn’t an image of God: this is an image of us! This is one of those “but even more so” parables, in which Jesus points out something decent that even we humble humans manage to do, and says “and so, imagine how much more” this goodness is the case with God. The sleepy neighbor in the story is not moved by friendship, but eventually even he shuffles out of bed to respond.
Hanya mengingatkan kalau anggur warnanya ungu. Kalau engga nganggur berarti engga ungu. Tuhan Yesus yang ngajarin. Logikanya, kalau anggur ungu, Gereja Katolik dibangun di ladang gandum, eh kebun anggur. Jadi kalau beda agama engga boleh nganggur. Eh, maksudnya boleh digugurkan. Meski memang healing tidak sebentar. Jadi kalau ungu apa? Anggur! Betul. Kalau pink? Gandum. Saya nilai Anda kesulitan membedakan anggur dan gandum. Saya juga binging bagaimana saya harus membantu Anda. Namun yang pasti, kalau beda agama hukumnya digugurkan, sehingga tidak mungkin anggur. Kita buktikan? Apa kepanjangan PSK? Pekerja. Nah, jika Anda punya saudara menikah beda agama dan terlihat menganggur, jangan mudah cemburu. Karena dia "Bekerja". Apalagi menurut Hukum Gereja, pernikahannya unlawful marriage (UM). Bisa dibayangkan menurut Hukum Gereja bagaimana dia "Bekerja?" Saya tidak menakut-nakuti, hanya untuk supaya Anda bisa memutuskan untuk masa depan. ...
Comments
Post a Comment