Skip to main content

Epanorthosis

Epanorthosis is a rhetorical device where a speaker or writer immediately corrects or rephrases a word they just said, usually substituting a more emphatic, precise, or emotionally charged term. It adds urgency, highlights a shift in thought, or creates a dramatic effect.

Misa akhir semester siang ini bersama Rm. Lucianus. Romo menjelaskan tentang: mengajar, mengakui kesalahan, memperbaiki perbuatan, dan mendidik. Ini merupakan bekal sebelum liburan. Hehe.. Embek Hari Senin ujian selama satu minggu. Terima kasih, Romo. Hari ini Koornya EMC loh. 👏👏

Rm. Lucianus Suharjanto, SJ., S.S., STB, M.A. adalah Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Sanata Dharma.

Jordan adalah teman Leona SMP. Seperti bertemu Yesus Sang Juru Selamat, ketika tahu bahwa Budhenya Jordan adalah seorang biarawati juga. Sr. Emiliana, FMM yang telah dipanggil Bapa ke Surga 28 Januari lalu.

Merasa tidak sendiri, ditemani Yesus. Serasa bobok di kasur, empuk, warna putih, selimut tebal. Hangat. Padahal kita negara tropis. Sumuk ya malah berkhayal selimut tebal. Lalu FMM adalah Ordo Kakak Kardinal Ignatius. Wah, mimpi apa saya?

Dalam foto, Jordan nomor dua dari tengah. Tentu ini foto saat Krisma. Bersama Papaus. Sebenarnya saya ingin menampilkan foto Jordan bersama Mamanya. Mungkin mamanya lagi sibuk. Lalu saya bertanya foto dengan Budhenya; sebenarnya merasa saya belum pantas menerima penglihatan itu. Lalu saya berpikir 12 para rasul, teman terbaik, dan Jordan memberi foto yang sangat cantik saat Krisma.

Nanti kalau dicari Kinci, saya di sini. Bersama teman terbaik Jordan. 12 para rasul menurut Jordan FMM.

Caption from Facebook:

“Dalam diam kaul suci, Sr. Emiliana Surajinah FMM mempersembahkan seluruh hidupnya.
Sebagai Suster FMM, ia melangkah setia dalam terang Injil.
Sebagai misionaris, ia menabur cinta Tuhan dengan kesederhanaan dan ketekunan.
Kini langkahnya berhenti, namun kasih yang ditinggalkannya tetap hidup.
Ia pulang ke rumah Bapa, membawa lelah yang telah menjadi doa.
Terima kasih atas hidup yang sepenuhnya dipersembahkan.
Beristirahatlah dalam damai, hingga berjumpa kembali dalam kekekalan.”

INTRODUCTION

1. Humanity, created by God in all its grandeur, is today facing a pivotal choice: either to construct a new Tower of Babel or to build the city in which God and humanity dwell together. Each generation inherits the task of shaping its own era, of guiding history to become a place where the dignity of every person is safeguarded, justice is promoted and fraternity is made possible. Yet every era also runs the risk of creating an inhumane and more unjust world. Whenever humanity is in danger of marring its true identity, we Christians lift our eyes to the Incarnate God, knowing that it is “only in the mystery of the Word made flesh that the mystery of humanity truly becomes clear.” [1] In Jesus Christ, this humanity in its grandeur becomes the Way, the Truth and the Life, opening the path for each of us to grow toward fullness.
2. Founded on Christ, the living stone, we experience the powerful and mysterious action of the Holy Spirit, and we believe that every authentic human effort to cooperate with him for the good will be blessed by our heavenly Father, in whom we place our hope. For this reason, we can diligently contribute to every initiative that builds a more just world, and we can call others to collaborate in promoting the integral development of every human being. We wish to engage in dialogue with all men and women of our time, with whom we share in the events, questions and aspirations of humanity. [2] Together with them, we seek to identify new paths for the common good and for promoting a dignified life for all. Indeed, openness to dialogue is an integral part of the Church’s vocation because, constituted in Christ as “a sacrament… of communion with God and of the unity of the entire human race,” [3] she recognizes history as the place where the Gospel challenges and directs human experience.

Foto: Mba Ani EMC English Mass Community USD

Comments

Populer

Putri Sendangsono

Yang ini bukan cerita pager bagus atau dimas diajeng. Sebagian besar sangat bersyukur mempunyai mantu Tante Dita. Seperti Bunda Maria dalam ranah bahwa ia seorang ibu. Namun tentu belum dibahas sampai Jakarta. Namun kami boleh percaya akan sosok Bunda Maria ini karena ia lahir dan tumbuh di Sendangsono. Ya, semua Ibu boleh menerima title Bunda Maria. Hanya kali ini dengan berat hati kami mengganti warna kebayanya menjadi hijau. Karena dispenser  Dari angle sebaliknya, Bunda Maria yang polos dan taat ini bersyukur mendapatkan Om kandung saya. Seperti penyelamat saja, padahal Om saya GKJ. Hehe.. Moral of the story, dua-duanya sama-sama orang Jawa. Dan karena Bapaknya merokok. Semua anak perokok dikirimi penyelamat. Entah agamanya apa. Camkan baik-baik. Karena perokok tidak tahu kapan ajal datang. Saya menjamin. Putri Sendangsono yang sangat lugu ini sangat jauh berbeda dengan wanita kota. Ia sangat patuh dan tidak banyak berharap. Lebih sering tersenyum dalam menghadapi k...

Everyday Clothing Not Compulsory

Generally, you can only claim clothing if it is a compulsory uniform, protective gear, or specifically designed for your occupation. Everyday or conventional clothing cannot be claimed, even if you only wear it for work. NN Accountability Australia bookkeeping and training group

Batik Setting Peredam

Untuk setting ini, aku perlu beberapa persiapan. Yang pertama batik 3 lembar untuk sarimbit kami bertiga Detail motif Batik 3 lembar untuk sarimbit Dviki. Berapapun anaknya, jatah dari Budhe sama ya 3 lembar. Kalau butuh lebih usaha sendiri. Batik yang dipakai Baus, I assume yang ada pada gambar Varian yang dikenakan Baus misalnya turonggo Rp 99.000 x 9 = Rp 891.000 Biaya foto Rp 3.000.000 Keamanan Rp 1.400.000 Donasi nota Pertamax